Cuman orang “gila” yg mengharapkan perubahan tapi gak melakukan perubahan…
Bukan saya mao bicarain tentang teori fisika, karena jelas saya bukan pakar fisika. Saya mencoba untuk mengkaji tentang proses dalam kehidupan. Memang, saya juga bukan orang yang ahli dalam topik ini, tapi yang saya tau, gak ada dosa yang terkandung jika saya “lancang” membahas ini.
Buat saya, gak da masalah klo ada istilah Tahun Baru (Hijriah, Masehi, Imlek, de el el), Ulang Tahun (pribadi, pernikahan, perusahaan, de el el), Hari Ibu, Hari Kemerdekaan, atau hari apa pun lah…walau mungkin sebetulnya tak jauh beda hari2 tsb ma hari2 yg laen.
Buat saya, yang menjadi catatan adalah, bagaimana kita bisa menjadikan wktu2 tsb sebagai momentum. Tak banyak orang yang “menunggu” momentum, dan lebih sedikit lagi orang yang “mencari dan menciptakan” momentum itu sendiri. dan mereka berada diantara banyak orang yang “mengalir” apa adanya. tak peduli apa yang akan terjadi nanti, besok, lusa, dst.. Tidak ada salahnya memang dengan keputusan mereka untuk itu. Tapi coba jadikan pertanyaan pada diri kita : “Apakah juga tidak masalah keadaan ‘begini-begini aja’ bagi orang disekeliling kita?? orang2 yang kita sayangi??” pertanyaan slanjutnya “seberapa besar sayang kita pada mereka??” dan selanjutnya”Apa bukti besarnya rasa sayang itu??”..!!
Bisa dibilang, momentum itu segalanya dalam proses kehidupan ini. Karena itu adalah titik tolak balik terhadap kehidupan kita sebelumnya. Ya, kebanyakan orang memanfaatkan momentum tersebut untuk BERUBAH. Ada orang yang menjadikan Bulan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah, menjadikan syawal sebagai titik awal pertaubatan, menjadikan hari ibu sebagai momentum untuk lebih sayang lagi pada ibu, menjadikan ulang tahun sebagai titik balik dari keburukan2 di usia sebelumnya, menjadikan tahun baru sebagai awal untuk mewujudkan impian yg belum terwujud di tahun sebelumnya, atau pun menambah impian baru yg ingin dicapai ditahun berikutnya. dan banyak lagi macamnya orang2 memanfaatkan momentum tersebut utk kehidupannya. Apakah tidak bisa menempatkan momentum tersebut pada hari2 biasa?? jelas bisa banget…!!! trus knapa nggak?? nah itu tadi, menunggu momentum. saya rasa tidak salah dengan itu. walau memang sebaiknya kita menjadikan momentum tersebut tiap harinya. Tapi skali lagi saya catatkan, mereka hidup diantara kebanyakan orang yang tidak memperdulikan momentum2 tersebut. Sehingga hidup mereka “datar-datar aja”, atau “begini – begini aja”. Seolah mereka lupa kalo banyak orang2 disekeliling mereka, saudara kandung mereka, saudara jauh mereka, saudara seiman mereka, yang membutuhkan pertolongan mereka. –Kalo kta orang2 sih itu namanya “APATIS”..–
Lha, momentum itu dapetnya dari mana?? perenungan..!! ato klo bahasa gaulnya “Muhasabah”. Mungkin menurut mreka yang lagi hura2 nyambut tahun baru, kita kaya orang “sedeng”, yang nunduk diem sendiri (bukan tidur lho..
), saat kebanyakan mereka tertawa terbahak kita justru nangis, saat mereka niup terompet n nyalain petasan, kita malah menyeka idung yang meler..yah, kalo diliat sekilas emang kaya orang sedeng…sama halnya ketika kebanyakan orang nyenyak tidur, ampe ngorok bahkan, ada beberapa orang yg bangun untuk solat. sekilas klo diliat dari kacamata manusia sih, ya itu tadi, sedeng…waktunya enak2 tidur kok malah melek..!!?!?–dan sepertinya mereka lupa, pas lagi ada piala dunia ato euro, ato serie A, ato pertandingan bola laennya, mereka bahkan rela ga tidur tiap malem, cuman buat nonton tuh pertandingan..apa itu salah?? ga juga, terserah mereka, waktu itu milik mereka juga kok, terserah mereka mo digunain utk apa, karena otak mereka juga lebih cerdas untuk sekedar diomongin “mendingan tidur” ato “mendingan solat”..y ga??
–
Bek tu topik,
yah, ga masalah kan di mata manusia kita dibilang “sedeng” pas lagi kaya gtu..??!! jdi inget kata2 tmen sya yg selalu dikumandangkan waktu di kampus.. “Nanti kita lihat, siapa yg akan tertawa pada akhirnya..hahahaha…”
Semua orang itu punya salah, ITU MUTLAK..!!! sama mutlaknya dengan setiap orang punya hak untuk berubah dan memperbaiki kekeliruannya. Itu lah indahnya sebagai umat Nabi Muhammad, kalo kita berbuat salah, gak langsung di azab, tpi ditangguhkan azabnya sampe kita mati nanti. Knapa tuh kira2?? klo menurut saya, karena kita masih diberi kesempatan untuk berubah dan memperbaiki kekeliruan kita. Dan menurut saya, dengan muhasabah lah kita bisa lebih meresapi dan merenungi, apa saya yg harus kita rubah, ap yg harus diperbaiki.
Saya gak tau, momentum apa yg udah pembaca dapet tadi malem, tpi mungkin bisa menjadi catatan bahwa, hanya orang gila yg mengharapkan perubahan tpi ga mao melakukan perubahan..!!!
waalahu a’lam
*silakan dikoreksi jika ada yg tidak berkenan..

Waah awal tahun yang tepat sebagai momentum untuk menulis “momentum”, mantap. Momentum ntu sebenarnya apa yah?
wahh..mas dan ini bisa ajah…
ehmmm….klo mnurut bahasa sih : 1. saat yg tepat; 2. besaran yg berkaitan dng benda yg besarnya sama dng hasil kali (darab) massa benda yg bergerak itu dan kecepatan geraknya; kuan-titas gerak; 3. kesempatan
klo mnurut hukum fisika : Momentum adalah besaran vektor. Momentum sebuah partikel dapat dipandang sebagai ukuran kesulitan untuk mendiamkan benda. Sebagai contoh, sebuah truk berat mempunyai momentum yang lebih besar dibandingkan mobil yang ringan yang bergerak dengan kelajuan yang sama. Gaya yang lebih besar dibutuhkan untuk menghentikan truk tersebut dibandingkan dengan mobil yang ringan dalam waktu tertentu. (Besaran mv kadang-kadang dinyatakan sebagai momentum linier partikel untuk membedakannya dari momentum angular).
nah lho…milih yg mana tuh mas??
ayo mas, jadikan ini sbg momentum utk mulai menulis…nikmat lho..
jangan minder klo dapet kritik, justru di situlah seninya…